EUR/JPY Diperdagangkan Lebih Tinggi di Sekitar 165,00 di Tengah Sentimen Risk-On Meskipun ECB Dovish
- EUR/JPY melanjutkan kenaikan karena membaiknya sentimen risiko di balik meredanya ketegangan antara Israel dan Iran.
- Villeroy dari ECB mengatakan bahwa situasi Timur Tengah kemungkinan tidak akan berdampak pada niat bank sentral untuk menurunkan suku bunga pada bulan Juni.
- Gubernur BoJ Kazuo Ueda menganjurkan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar.
EUR/JPY diperdagangkan dengan nada yang lebih kuat di sekitar 164,90 selama awal sesi Asia pada hari Senin. Namun, European Central Bank (ECB) akan memulai penurunan suku bunga pada bulan Juni, didorong oleh prospek perekonomian Zona Euro yang lemah dan tekanan inflasi inti yang moderat. ECB telah menyampaikan pesan yang jelas kepada pasar, menyatakan bahwa penurunan suku bunga akan segera terjadi jika perkembangan signifikan tidak terjadi.
Seperti yang dilaporkan Reuters pada hari Minggu, François Villeroy de Galhau, gubernur Bank of France, mengatakan bahwa ketegangan di Timur Tengah diprakirakan tidak akan menyebabkan kenaikan harga energi yang signifikan, dan oleh karena itu, kecil kemungkinannya akan berdampak pada harga energi, dan sebagi hasilnya, kemungkinan tidak berdampak pada niat European Central Bank untuk memulai penurunan suku bunga pada bulan Juni.
Yen Jepang (JPY) menghadapi tantangan di tengah kebangkitan sentimen risk-on, dan tidak ada perkembangan geopolitik penting yang muncul selama akhir pekan. Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS, menyerukan untuk menahan diri menyusul komentar dari pejabat Iran yang mengindikasikan tidak ada rencana langsung untuk membalas serangan rudal Israel yang dilaporkan. Pernyataan Blinken muncul usai pertemuan para menteri luar negeri G7 di Capri, Italia, seperti dilansir "The Guardian".
Selanjutnya, Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda membuat pernyataan dovish dalam seminar yang diselenggarakan oleh Peterson Institute for International Economics pada hari Jumat, menurut Reuters. Ueda menekankan perlunya BoJ untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif di masa mendatang karena inflasi yang mendasarinya masih “sedikit di bawah” target 2%, dengan ekspektasi inflasi jangka panjang di sekitar 1,5%.