Rupiah Anjlok Melawan Dolar AS, Kini Bertahan di Dekat 16.300, PCE AS akan Tentukan Arah Selanjutnya

  • Rupiah Indonesia sedikit pulih terhadap Dolar AS di perdagangan sesi Asia ke 16.307 setelah anjlok hingga mendekati 16.350.
  • PDB AS yang mencapai 2,8% dan lebih kuat dari estimasi mengangkat Dolar AS semalam.
  • Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang dirilis malam ini, akan memengaruhi kebijakan The Fed di waktu mendatang.

Nilai tukar Rupiah Indonesia (IDR) terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) anjlok bahkan hingga mendekati 16.350 pada perdagangan kemarin. Pagi ini Rupiah dibuka di 16.325, sedikit menguat, namun masih bergulat di atas level psikologis 16.300 setelah rilis PDB AS semalam. Sejauh ini, mata uang Garuda tersebut telah mencetak level terendah di 16.282.

Rupiah, pagi ini masih bergerak fluktuatif dan tampaknya mata uang ini sedang menstabilkan pergerakannya setelah penurunan tajam semalam. Rupiah berpotensi bergerak di kisaran 16.280-16.350 menjelang rilis data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS malam ini. Jika data inflasi pilihan The Fed ini keluar lebih tinggi dari estimasi, USD berpeluang menguat, sehingga Rupiah bisa terseret turun di atas plafon kisaran yang disebutkan, sementara data yang lebih lemah, dapat menekan Dolar AS dan Rupiah bisa melonjak di bawah dasar kisaran tersebut. 

Sejauh ini, inflasi harga konsumen di Amerika serikat telah mengalami perlambatan, beriringan dengan meredanya pasar tenaga kerja. Indeks IHK MoM pada bulan Juni menurun, yang merupakan penurunan pertama dalam dua tahun terakhir. Tanda-tanda penting disinflasi lainnya mencakup penurunan ukuran alternatif secara terus-menerus, terutama indeks PCE rata-rata yang dipangkas yang diterbitkan oleh Federal Reserve Dallas, saat ini terlihat berada di bawah 3%.

Dolar AS yang diukur dengan indeks DXY melemah ke 104,26 pagi ini di sesi perdagangan Asia. Di perdagangan sesi Amerika kemarin malam, indeks ini melejit ke 104,45 dari terendah harian di 104,08 dan ditutup lebih kuat di 104,39 setelah PDB AS terlihat lebih kuat dari angka sebelumnya dan estimasi.

Semalam, pertumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) AS mencapai 2,8%, setelah penyesuaian musiman dan inflasi, meningkat dari tingkat sebelumnya 1,4% dan melampaui prakiraan yang sebesar 2%. Sementara itu, jumlah klaim awal untuk tunjangan pengangguran turun ke 235.000 pada minggu yang berakhir tanggal 19 Juli, lebih rendah dari angka sebelumnya yang sebesar 243.000 dan estimasi 238.000.

Pergerakan Dolar AS juga masih dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap jalur kebijakan Federal Reserve (The Fed) selanjutnya. Optimisme pasar akan pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September sebesar 25 basis poin terlihat berkurang ke 87,1% dibandingkan dengan 94% yang tercatat pada pekan sebelumnya (18 Juli). Data PCE AS yang dirilis malam ini dapat memengaruhi kebijakan The Fed di waktu mendatang dan menggerakkan USD, yang seharusnya akan berdampak pada Rupiah.

Ketidakpastian politik dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat juga memberikan dampak terhadap Rupiah. Mata uang ini kemungkinan akan tertekan, jika Donald Trump terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat karena kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan oleh Trump terkait dengan tarif perdagangan yang diberlakukan terhadap Tiongkok. Meskipun konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina berpotensi mereda, berlanjutnya perang dagang AS-Tiongkok dapat memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia. Skenario ini mungkin akan menyebabkan penurunan pasar saham Indonesia dan melemahnya nilai tukar Rupiah.

Di Tiongkok, People's Bank of China (PBoC) telah melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali minggu ini. Suku Bunga Dasar Pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) diturunkan 10 basis poin (bp) dari 3,45% ke 3,35% dan LPR lima tahun dari 3,95% ke 3,85% pada tanggal 22 Juli. Kemudian, PBoC juga memangkas suku bunga Fasilitas Pinjaman Jangka Menengah (Medium-term Lending Facility/MLF) satu tahun dari 2,50% ke 2,30% pada hari Kamis (25 Juli). Penurunan suku bunga ini tidak memberikan dorongan positif pada sentimen pasar. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok khawatir akan kondisi perekonomianya, yang semakin membuat pasar saham dan para investor cemas.

Seperti yang telah disinggung di atas, tema data hari ini akan berpusat di sekitar rilis Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB).

GBP/USD Pulih di Atas 1,2850 Menjelang Data PCE AS

Pasangan GBP/USD menguat di dekat 1,2860 di tengah melemahnya Greenback, menghentikan penurunan tiga hari beruntun selama jam perdagangan Asia pada hari Jumat. Namun, potensi kenaikan pasangan mata uang utama ini tampaknya terbatas karena para pelaku pasar memprakirakan Bank of England (BoE) akan memangkas suku bunga di bulan Agustus.
Baca lagi Previous

Analisis Harga Perak: XAG/USD Tampaknya Rentan untuk Turun Lebih Jauh Saat Berada di Bawah SMA 100 Hari

Perak (XAG/USD) naik tipis selama sesi Asia pada hari Jumat dan untuk saat ini, tampaknya telah menghentikan penurunan beruntun selama dua hari ke level terendah sejak 9 Mei, di sekitar area $27,45 yang disentuh pada hari sebelumnya. Namun, logam mulia ini kesulitan untuk membangun kekuatan di atas level $28,00 dan tetap berada di jalur untuk mencatatkan penurunan untuk 3 pekan berturut-turut.
Baca lagi Next