USD/IDR Terus Lemah, Rupiah Menguat ke 16.132 saat CaDev Indonesia Naik ke USD 145,4 Miliar
- USD/IDR terus mencatatkan pelemahan, karena Dolar AS tertekan sehingga Rupiah menguat hingga ke 16.132.
- Cadangan Devisa Indonesia untuk bulan Juli tercatat meningkat ke USD 145,4 Miliar.
- Di Tiongkok, ekspor turun ke 7% YoY, Impor naik ke 7,2% YoY, surplus Neraca Perdagangan menyempit ke USD84,65 Miliar.
Pasangan mata uang USD/IDR melanjutkan pelemahannya di perdagangan sesi Asia, dengan menembus di bawah level 16.150. Pada saat berita ini ditulis, pasangan mata uang tersebut sedang bergerak di sekitar level 16.132 setelah rilis data Cadangan Devisa Indonesia yang optimis untuk bulan Juli. Rupiah Indonesia (IDR) pada hari ini berpotensi bergerak di kisaran 16.180-16.090.
Bank Indonesia (BI) yang baru saja merilis jumlah Cadangan Devisa (CaDev) dalam negeri, melaporkan bahwa jumlah di bulan Juli mencapai USD 145,4 miliar, melampaui jumlah bulan sebelumnya di USD 140,2 miliar. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor berserta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ke depan BI meyakini CaDev akan tetap memadai yang didukung oleh prospek ekspor yang tetap positif, surplus Neraca Perdagangan dan imbal hasil investasi yang menarik.
Dolar AS yang diukur oleh Indeks Dolar AS (DXY) terlihat melakukan pemulihan, yang kini sedang bergerak di 103,20, setelah tertekan akibat laporan pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi besar yang mengecewakan dan data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan pelemahan di bursa tenaga kerja, sehingga mendorong harapan pemangkasan suku bunga The Fed. Selain itu, USD juga terguncang karena timbulnya kecemasan akan terjadinya resesi di Amerika Serikat, namun hal ini telah ditampik oleh para pejabat The Fed, yang menyatakan bahwa data lapangan pekerjaan yang lemah bukan berarti resesi.
Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar 50 basis poin (bp) di bulan September meningkat ke 65,5%, di bulan November meningkat ke 57,4% dan di bulan Desember turun ke 20,4% dari peluang yang tercatat satu pekan sebelumnya.
Menurut jajak pendapat Reuters, para ahli strategi valuta asing mengharapkan Dolar AS akan pulih selama tiga bulan ke depan, karena harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga yang dinilai terlalu berlebihan.
Sementara itu, impor bulan Juli di Tiongkok telah meningkat tajam dari -2,3% ke 7,2% YoY, dan ekspor turun ke 7% YoY dari tingkat sebelumnya yang sebesar 8,6% di bulan Juni. Hal ini menyebabkan surplus Neraca Perdagangan Tiongkok bulan lalu menurun ke USD84,65 Miliar dari USD99,05 miliar pada bulan Juni.
Pemberlakuan tarif tambahan dari AS untuk perdagangan Tiongkok masih membayangi, di mana AS telah mengumumkan pada bulan Mei untuk menaikkan tarif pada sejumlah produk Tiongkok yang akan berlaku pada tanggal 1 Agustus, namun kemudian kenaikan ini ditunda hingga dua minggu setelah rilis keputusan akhir.
Menurut Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, perang dagang antara AS dan Tiongkok ini akan berdampak pada situasi dunia, khususnya negara-negara berkembang termasuk Indonesia, yang dapat menyebabkan berkurangnya aliran modal yang masuk ke dalam negeri dan menyebabkan Rupiah melemah.
Namun seiring adanya hal tersebut, pemerintah Indonesia dapat mengambil peluang dengan berusaha meningkatkan momentum dan daya saing untuk memasuki pasar barang dan jasa di AS yang menggantikan barang-barang dari Tiongkok, sehingga perekonomian di dalam negeri terdongkrak, demikian menurut Pakar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional, Ariawan Gunadi saat berdialog dengan CNBC.