Rupiah Sedikit Menguat Melawan Dolar di 15.611, Pedagang Tunggu Data IHP AS
- Rupiah Indonesia sedikit menguat sebesar 77 poin melawan Dolar AS di 15.611 sejauh ini.
- Indeks Harga Konsumen AS tahun-ke-tahun pada bulan September lebih kuat dari estimasi pasar, tercatat di 2,4% YoY.
- IHP non Makanan & Energi AS diharapkan menguat ke 2,7% YoY, tingkat yang lebih kuat dapat mendongkrak USD lebih jauh.
Rupiah Indonesia (IDR) masih bergerak dalam rentang perdagangan yang lebih sempit antara 15.600-15.700, tampaknya berupaya menguji batas bawah kisaran tersebut menuju Simple Moving Average (SMA) 50 periode pada grafik harian yang kini berada di sekitar 15.539. Pada perdagangan saat ini, mata uang tersebut menguat sebesar 77 poin melawan Dolar AS (USD) di 15.611, setelah kemarin ditutup di 15.692.
Menurut Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan kepada bisnis.com, Rupiah diprakirakan akan masih sulit untuk bergerak ke bawah Rp15.500 per Dolar AS karena fokus tertuju pada kebijakan fiskal Tiongkok dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga-harga energi berfluktuasi. Melonjaknya harga energi, khususnya minyak akan memengaruhi perekonomian di Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada Rupiah.
Dolar AS tampak bergerak datar di 102,86 setelah rilis IHK AS tadi malam, di mana pada grafik harian, Indeks Dolar AS (DXY) telah membentuk pola candlestick doji, yang menunjukkan bahwa kekuatan para penjual dan pembeli seimbang dan pasar belum dapat menentukan arah selanjutnya menjelang rilis data Indeks Harga Produsen (AS) nanti malam.
Presiden Federal Reserve (The Fed) Bank of Atlanta, Raphael Bostic mengatakan kepada Wall Street Journal, jika data belum selaras, maka kemungkinan The Fed tidak akan melakukan pemangkasan di bulan November. Ia juga menegaskan bahwa The Fed kemungkinan akan bergantung pada data lapangan pekerjaan. Komentarnya tersebut muncul setelah rilis data IHK AS, yang membuat pasar menggemakan kemungkinan adanya jeda oleh The Fed, meski sebagian besar masih meyakini bahwa The Fed tetap akan melakukan pemangkasan lagi di bulan depan.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS di bulan September yang dirilis pada Kamis malam oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS, keluar sebesar 2,4% YoY, lebih rendah dari tingkat di bulan Agustus yang tercatat sebesar 2,5%, namun berada di atas konsensus 2,3%. IHK inti, non makanan dan energi, naik 3,3% YoY, di atas prakiraan dan pembacaan sebelumnya sebesar 3,2%.
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS untuk pekan yang berakhir pada tanggal 4 Oktober naik ke 258.000, lebih buruk dari jumlah klaim pada pekan sebelumnya 225.000, dan lebih tinggi dari estimasi 230.000.
Malam ini, Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan merilis Indeks Harga Produsen (IHP) AS untuk bulan September pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB). Indeks Harga Produsen non Makanan & Energi diprakirakan akan meningkat ke 2,7% YoY dari 2,4%. Serangkaian data IHP ini berpotensi mendorong USD dan dapat menciptakan peluang perdagangan bagi pasangan mata uang USD/IDR dalam jangka pendek sebelum penutupan pasar menjelang akhir pekan ini.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Produsen non Pangan & Energi (Thn/Thn)
Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Okt 11, 2024 12:30 GMT (19:30 WIB)
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 2,7%
Sebelumnya: 2,4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics