Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Terseret di Bawah $2.700 karena Penguatan Dolar AS
- Harga Emas melemah ke sekitar $2.680 di awal sesi Asia hari Senin.
- Penguatan USD melemahkan logam mulia.
- Ketidakpastian di seputar ekonomi global dan risiko geopolitik dapat meningkatkan aliran safe haven, sehingga menguntungkan harga Emas.
Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan di wilayah negatif di dekat $2.680 selama awal sesi Asia hari Senin. Penurunan logam mulia ditekan oleh penguatan Dolar AS (USD) akibat kemenangan Donald Trump.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY), indeks nilai USD yang diukur terhadap sekeranjang enam mata uang dunia, memperpanjang kenaikannya ke sekitar 105,00, tertinggi empat bulan.
Kemenangan Trump telah memicu pertanyaan mengenai apakah Federal Reserve (The Fed) AS akan menindaklanjuti penurunan suku bunga dengan laju yang lebih lambat dan lebih kecil. Hal ini, pada gilirannya, mendorong Greenback dan membebani harga Emas dalam mata uang USD.
"Rally Dolar dan imbal hasil ini telah memberikan tekanan pada Emas, yang secara tradisional turun ketika suku bunga riil naik, mencerminkan berkurangnya permintaan aset-aset safe haven dalam jangka pendek," kata Matthew Jones, analis logam mulia di pedagang logam yang berbasis di London, Solomon Global. "Namun, dari perspektif makro jangka lebih panjang, masa depan 'sebagus emas'," tambah Jones.
Data ekonomi AS yang optimis pada hari Jumat berkontribusi pada kenaikan USD. Indeks Sentimen Konsumen AS naik ke 73,0 di bulan November dari 70,5 di bulan Oktober, menurut pembacaan pendahuluan oleh University of Michigan. Angka ini lebih baik dari ekspektasi pasar 71,0.
Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dapat membantu membatasi penurunan logam mulia. Kepala Staf Angkatan Darat Israel Herzi Halevi menyetujui perluasan invasi darat ke Lebanon selatan, demikian laporan lembaga penyiaran negara Kan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.