Rupiah Menguat Pasca Cadev di Tengah Tarif Trump, Taruhan Pemangkasan Suku Bunga The Fed
- Rupiah menguat 47,5 poin ke Rp16.306,5 terhadap dolar AS, di tengah gejolak tarif.
- Cadangan devisa RI tetap tinggi di US$152 miliar, didukung prospek ekspor dan sentimen positif investor.
- Trump memicu ketegangan baru dengan tarif 25-50% pada India dan ancaman 100% untuk sektor semikonduktor global.
Nilai tukar USD/IDR merosot ke Rp16.306,5, mencerminkan penguatan rupiah Indonesia (IDR) sebesar 47,5 poin atau 0,29% pada basis harian, meski secara tahunan rupiah masih melemah 2,12% year-to-date. Penguatan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke 98,16, memperlihatkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta dampak lanjutan dari gelombang tarif Presiden Trump.
Kinerja dolar AS tergelincir setelah data PMI Jasa ISM AS menunjukkan pelemahan aktivitas dan lonjakan harga, memperkuat nada stagflasi yang mulai mengemuka. Data ini memperpanjang rangkaian rilis ekonomi AS yang berada di bawah ekspektasi, termasuk laporan Nonfarm Payrolls yang lebih lemah dari prakiraan pekan lalu. Saat ini, alat CME FedWatch mencatat hampir 95% kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan September, dengan proyeksi dua kali penurunan masing-masing sebesar 25 bp hingga akhir 2025.
Cadangan Devisa Tetap Kuat, Sinyal Likuiditas BI Menunjukkan Resiliensi Moneter
Di sisi lain, Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia tetap tangguh meskipun sedikit menurun ke US$152,0 miliar pada akhir Juli 2025 dari US$152,6 miliar di bulan sebelumnya. Penurunan ini merupakan hasil dari pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk stabilisasi nilai tukar. Namun, posisinya tetap memadai, setara pembiayaan 6,3 bulan impor dan jauh di atas ambang batas internasional. Bank Indonesia (BI) menilai kekuatan ini didukung oleh surplus neraca modal dan finansial serta persepsi investor yang tetap kondusif terhadap ekonomi domestik.
Kebijakan moneter juga mencerminkan sinyal likuiditas yang terjaga. Uang Primer (M0) Adjusted tumbuh 7,0% yoy pada Juli 2025, melanjutkan tren positif 8,6% di bulan sebelumnya. Nilainya mencapai Rp1.925,4 triliun, ditopang oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan (9,7% yoy) dan giro bank umum di BI (8,4% yoy). Bank Indonesia menyebut pertumbuhan ini turut memperhitungkan insentif likuiditas melalui instrumen pengendalian moneter.
Gelombang Tarif Trump Kembali Menguat, Ketidakpastian The Fed Tambah Tekanan Global
Dari sisi global, lonjakan tarif kembali mendominasi narasi pasar. Presiden Donald Trump memperluas cakupan tarif timbal baliknya, menetapkan tarif tambahan 25% untuk impor India karena pembelian minyak Rusia – membawa total bea masuk menjadi 50%. Jepang juga menghadapi ancaman tarif baru sebesar 15%, sementara tarif rata-rata nasional AS diproyeksi naik ke 18,3% menurut Yale Budget Lab. Puncaknya, Trump mengisyaratkan tarif 100% untuk seluruh chip dan semikonduktor yang masuk ke AS, kecuali perusahaan bersedia membangun basis produksi di dalam negeri.
Kebijakan ini menuai kekhawatiran inflasi lanjutan, sekaligus memperbesar tekanan terhadap dolar AS. Sejumlah pejabat The Fed – termasuk Mary Daly, Susan Collins, dan Lisa Cook – menekankan bahwa ketidakpastian transmisi kebijakan masih tinggi. Daly bahkan memperingatkan bahwa The Fed mungkin harus bertindak tanpa memiliki keseluruhan gambaran ekonomi secara utuh, menandai urgensi yang rapuh di tengah tekanan harga.
Pasar kini menantikan rilis Klaim Tunjangan Pengangguran mingguan AS dan pernyataan dari para anggota FOMC yang akan menjadi penentu arah berikutnya. Dalam kondisi ini, minat terhadap aset-aset emerging market seperti rupiah bisa tetap terjaga, asalkan ketegangan geopolitik dan volatilitas tarif tidak menciptakan gejolak tambahan.
Pertanyaan Umum Seputar Tarif
Meskipun tarif dan pajak keduanya menghasilkan pendapatan pemerintah untuk mendanai barang dan jasa publik, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Tarif dibayar di muka di pelabuhan masuk, sementara pajak dibayar pada saat pembelian. Pajak dikenakan pada wajib pajak individu dan perusahaan, sementara tarif dibayar oleh importir.
Ada dua pandangan di kalangan ekonom mengenai penggunaan tarif. Sementara beberapa berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk melindungi industri domestik dan mengatasi ketidakseimbangan perdagangan, yang lain melihatnya sebagai alat yang merugikan yang dapat berpotensi mendorong harga lebih tinggi dalam jangka panjang dan menyebabkan perang dagang yang merusak dengan mendorong tarif balas-membalas.
Selama menjelang pemilihan presiden pada November 2024, Donald Trump menegaskan bahwa ia berniat menggunakan tarif untuk mendukung perekonomian AS dan produsen Amerika. Pada tahun 2024, Meksiko, Tiongkok, dan Kanada menyumbang 42% dari total impor AS. Dalam periode ini, Meksiko menonjol sebagai eksportir teratas dengan $466,6 miliar, menurut Biro Sensus AS. Oleh karena itu, Trump ingin fokus pada ketiga negara ini saat memberlakukan tarif. Ia juga berencana menggunakan pendapatan yang dihasilkan melalui tarif untuk menurunkan pajak penghasilan pribadi.