Rupiah Melemah, Pasar Mencermati Reshuffle Kabinet dan Arah The Fed

  • Rupiah diperdagangkan di sekitar Rp16.465 per USD, proyeksi rentang Rp16.400-16.550.
  • Reshuffle kabinet memicu aksi beli dolar di NDF; rupiah NDF 1 bulan sempat melemah 1,06% ke Rp16.583.
  • Fokus eksternal tertuju pada IHP dan IHK AS jelang FOMC 16-17 September, setelah NFP Agustus mengecewakan.

Rupiah Indonesia (IDR) melemah ke kisaran Rp16.465 per dolar AS (USD) pada Selasa menjelang sesi Eropa, terkoreksi 161 poin atau sekitar 0,99% dari penutupan sebelumnya. Data Reuters mencatat USD/IDR dibuka di 16.281,85, sempat menyentuh level tertinggi 16.495 dan terendah 16.308. Dengan kombinasi faktor domestik dan eksternal, rentang pergerakan harian diproyeksikan berada di Rp16.400-16.550. Pelemahan rupiah yang sempat mendekati 1% ini telah mendorong Bank Indonesia turun tangan guna menstabilkan pergerakan mata uang Garuda.

Reshuffle Kabinet Dorong Volatilitas Rupiah NDF, Pasar Uji Optimisme Menkeu Baru

Dari dalam negeri, sorotan utama datang dari reshuffle kabinet pada Senin, 8 September 2025. Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani yang telah menjabat selama 17 tahun sebagai Menteri Keuangan. Selain itu, Budi Gunawan diberhentikan dari jabatan Menko Polkam dan Dito Ariotedjo dilepas dari kursi Menpora. Pergantian lain mencakup pelantikan Mukhtarudin sebagai Menteri P2MI, Ferry Juliantono sebagai Menkop, serta Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji & Umrah dengan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya. Dinamika ini memicu aksi beli dolar di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Data Kontan menunjukkan rupiah NDF tenor 1 bulan sempat melemah 1,06% ke Rp16.583 pada perdagangan Senin, sementara Bloomberg Technoz mencatat pergerakan di kisaran Rp16.424-16.516 di pasar Eropa.

Meski begitu, rupiah spot tidak melemah lebih jauh pada perdagangan Selasa. Pelaku pasar menakar pernyataan Menkeu baru Purbaya, yang menyebut target pertumbuhan hingga 8% bukan hal mustahil. Meski perincian program kerja belum sepenuhnya dipaparkan, narasi ambisius ini memberi sinyal bahwa reshuffle tidak hanya rotasi jabatan, melainkan juga upaya memperkuat fondasi fiskal di tengah gejolak eksternal. IHSG sendiri tertekan dua hari beruntun – turun 1,28% kemarin dan kembali terkoreksi 1,66% hari ini – menunjukkan kehati-hatian investor ekuitas.

Dolar AS Tertekan, Pasar memprakirakan Pelonggaran Agresif The Fed

Dari eksternal, dolar AS terus tertekan setelah rilis Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus hanya mencatat penambahan 22 ribu pekerjaan, jauh di bawah prakiraan 75 ribu dan lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya 79 ribu. Hasil ini semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap pelonggaran agresif dari Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pasar kini menunjukkan 11,8% peluang pemangkasan 50 basis poin dan 88,2% peluang pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan FOMC 16-17 September. Dengan latar tersebut, investor tetap memprakirakan The Fed akan menurunkan suku bunga hingga tiga kali sebelum akhir 2025.

Dalam jangka pendek, perhatian akan tertuju pada rilis Indeks Harga Produsen (IHP) Rabu dan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kamis, yang menjadi kunci konfirmasi arah inflasi AS. Data ini akan menentukan seberapa jauh ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan, sekaligus menjadi katalis utama pergerakan rupiah ke depan.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Harga Minyak Mentah Hari ini: Harga WTI Bullish pada Pembukaan sesi Eropa

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik pada hari Selasa, di awal sesi Eropa. WTI diperdagangkan di $62,36 per barel, naik dari penutupan hari Senin di $62,18. Kurs Minyak Brent (minyak mentah Brent) juga naik, meningkat dari harga $66,06 yang tercatat pada hari Senin, dan diperdagangkan di $66,26.
Baca lagi Previous

Hasil Industri (Bln/Bln) Perancis Juli Keluar sebesar -1.1% Mengungguli Prakiraan -1.8%

Hasil Industri (Bln/Bln) Perancis Juli Keluar sebesar -1.1% Mengungguli Prakiraan -1.8%
Baca lagi Next