Rupiah Menguji Konsolidasi, Pasar Tunggu Data Domestik dan Eksternal

  • Rupiah sempat menyentuh 16.634 sebelum bergerak kembali ke 16.693 per dolar AS menjelang sesi Eropa, melemah tipis dari penutupan sebelumnya.
  • Pasar menakar arah rupiah di tengah risiko shutdown pemerintah AS, ketidakpastian kebijakan The Fed, dan proyeksi rentang pergerakan harian di 16.330-16.700.
  • Fokus investor juga tertuju pada rilis data perdagangan dan inflasi Indonesia, proyek energi hijau Danantara, serta perkembangan tarif baru dan tensi politik di AS.

Menjelang sesi Eropa pada Selasa, rupiah mulai memantul setelah sempat menyentuh level terendah 16.634 di awal perdagangan. Mata uang Garuda kini bergerak kembali ke 16.693 per dolar AS, atau melemah 28 poin (-0,18%) dibandingkan penutupan Senin di 16.670.

Pergerakan ini memperlihatkan adanya upaya konsolidasi rupiah setelah pada Jumat lalu sempat menyentuh area psikologis 16.800. Pasar menakar arah selanjutnya di tengah dinamika global, termasuk risiko shutdown pemerintahan AS serta ketidakpastian lanjutan mengenai kebijakan Federal Reserve. Indeks dolar AS (DXY) sendiri saat ini menunjukkan konsolidasi di zona lemah-menengah, tertekan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian arah moneter. Pasangan mata uang USD/IDR diprakirakan akan bergerak di rentang 16.330–16.700 pada hari ini.

Data Perdagangan, Inflasi, dan Proyek Energi Hijau Jadi Sorotan Ekonomi Indonesia

Pada Rabu, 1 Oktober, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Indonesia. Survei Reuters memprakirakan surplus perdagangan Agustus menyempit ke sekitar USD4 miliar, lebih rendah dari Juli sebesar USD4,18 miliar yang terbantu ekspor sawit dan mesin. Ekspor diproyeksikan tumbuh 5,5% yoy, melambat dari 9,86% bulan sebelumnya, sementara impor masih terkontraksi 1,6% setelah minus 5,86% pada Juli. Selain itu, data kunjungan wisatawan mancanegara juga diperhatikan setelah Juli mencatat pertumbuhan 13,01% yoy, menjadi pembanding tren terbaru. Dari sisi harga, inflasi September diprakirakan naik tipis ke 2,5% yoy dari 2,31% di Agustus dengan inflasi inti stabil di 2,2%. Secara bulanan, inflasi diproyeksikan berbalik positif 0,13% setelah deflasi 0,08% sebelumnya.

Sementara itu, Danantara Indonesia akan meluncurkan delapan proyek waste-to-energy pada akhir Oktober, dimulai di Jakarta sebelum diperluas ke kota lain di Jawa dan Bali. Setiap 1.000 ton sampah ditargetkan menghasilkan 15 MW listrik dengan biaya Rp2–3 triliun, bagian dari rencana pemerintah membangun kapasitas 453 MW senilai USD2,72 miliar hingga 2034. Walau dampak jangka pendek pada rupiah minim, langkah ini dipandang positif bagi prospek energi hijau, arus investasi, serta perbaikan neraca perdagangan.

Trump Perluas Gelombang Tarif, Ancaman Shutdown Kian Membayangi Ekonomi AS

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump memperluas daftar tarif dengan menetapkan 10% pada kayu lunak dan kayu gergajian serta 25% pada produk kayu berlapis tertentu mulai 14 Oktober. Kebijakan ini menambah deretan bea masuk yang sudah mencakup lemari dapur, meja rias, dan produk pelapis per 1 Oktober, serta rencana tarif 100% untuk film asing dan bea besar pada impor furnitur. Gelombang tarif baru ini menyusul pengumuman pekan lalu mengenai tarif 100% untuk produk farmasi bermerek dan 25% untuk seluruh truk berat, menandai pengetatan menyeluruh di sektor kayu, furnitur, otomotif, dan farmasi.

Di saat bersamaan, tensi politik domestik juga meningkat, dengan kebuntuan di Washington yang membuat ancaman shutdown pemerintah AS pada 1 Oktober semakin nyata. Pertemuan Oval Office berakhir tanpa hasil, dengan Demokrat menyoroti “perbedaan besar” dan Wapres JD Vance menyebut penutupan hampir tak terhindarkan. Tanpa kesepakatan, data ekonomi resmi akan terhenti tepat saat The Fed membutuhkan sinyal pasar tenaga kerja dan inflasi menjelang pertemuan Oktober. Dengan ekonomi yang sudah rapuh, risiko shutdown dinilai dapat memperburuk ketidakpastian fiskal dan menekan kepercayaan pasar.

Data AS dan Ekspektasi Pemangkasan The Fed Jaga Rupiah Tetap Terdorong

Pada Selasa malam waktu Indonesia, pasar juga menanti rilis data AS, termasuk Indeks Harga Rumah (Juli) yang diproyeksikan tumbuh 0,1% setelah turun 0,2%, serta PMI Chicago (September) yang diprakirakan naik ke 43 dari 41,5. Sorotan lain adalah lowongan kerja JOLTS (Agustus) dengan konsensus 7,1 juta dibandingkan 7,18 juta sebelumnya. Selain itu, pidato pejabat The Fed – termasuk Jefferson dan Goolsbee – dinilai penting untuk memberikan arah kebijakan moneter. Menurut alat FedWatch CME Group, pelaku pasar kini menakar peluang hampir 90% penurunan suku bunga 25 bp pada Oktober. Ekspektasi ini menahan dolar AS di area lemah dan menjadi penopang bagi rupiah.

Pertanyaan Umum Seputar Tarif

Meskipun tarif dan pajak keduanya menghasilkan pendapatan pemerintah untuk mendanai barang dan jasa publik, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Tarif dibayar di muka di pelabuhan masuk, sementara pajak dibayar pada saat pembelian. Pajak dikenakan pada wajib pajak individu dan perusahaan, sementara tarif dibayar oleh importir.

Ada dua pandangan di kalangan ekonom mengenai penggunaan tarif. Sementara beberapa berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk melindungi industri domestik dan mengatasi ketidakseimbangan perdagangan, yang lain melihatnya sebagai alat yang merugikan yang dapat berpotensi mendorong harga lebih tinggi dalam jangka panjang dan menyebabkan perang dagang yang merusak dengan mendorong tarif balas-membalas.

Selama menjelang pemilihan presiden pada November 2024, Donald Trump menegaskan bahwa ia berniat menggunakan tarif untuk mendukung perekonomian AS dan produsen Amerika. Pada tahun 2024, Meksiko, Tiongkok, dan Kanada menyumbang 42% dari total impor AS. Dalam periode ini, Meksiko menonjol sebagai eksportir teratas dengan $466,6 miliar, menurut Biro Sensus AS. Oleh karena itu, Trump ingin fokus pada ketiga negara ini saat memberlakukan tarif. Ia juga berencana menggunakan pendapatan yang dihasilkan melalui tarif untuk menurunkan pajak penghasilan pribadi.


Neraca Perdagangan Turki Agustus: -4.21B versus -6.44B

Neraca Perdagangan Turki Agustus: -4.21B versus -6.44B
Mehr darüber lesen Previous

de Guindos, ECB: Tingkat Suku Bunga Saat Ini Sudah Memadai

Wakil Presiden Bank Sentral Eropa Luis de Guindos mengatakan pada hari Selasa bahwa “tingkat suku bunga saat ini adalah memadai”
Mehr darüber lesen Next