Rupiah Bergerak Terbatas, Fokus Pasar Beralih ke RUU P2SK, Paket Ekonomi 2025 dan Data AS

  • Rupiah bergerak sempit di awal sesi Eropa pada Kamis, dengan USD/IDR di 16.624 setelah menyentuh level 16.589-16.645.
  • Pasar mencermati RUU P2SK dan peluncuran Paket Ekonomi 2025 yang diharapkan memperkuat fundamental domestik di tengah kekhawatiran independensi BI.
  • Dari eksternal, pelemahan tenaga kerja AS, sikap hati-hati pejabat The Fed, serta ketidakpastian akibat shutdown pemerintah dan tarif baru menjadi fokus penggerak dolar AS.

Rupiah (IDR) diperdagangkan relatif stabil terhadap dolar AS (USD) pada Kamis di awal sesi Eropa. Pasangan mata uang USD/IDR berada di 16.624, naik tipis 0,15% dari penutupan sebelumnya di 16.605. Sepanjang hari ini, kurs rupiah bergerak dalam rentang terendah 16.589 dan tertinggi 16.645. Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih terjebak di kisaran sempit, dengan pasar menanti arah lebih jelas dari perkembangan global, termasuk data tenaga kerja AS serta dinamika politik terkait penutupan sebagian pemerintah AS.

RUU P2SK Disorot Pasar: Wewenang DPR Bertambah, Kekhawatiran atas Independensi BI Meningkat

Pasar mencermati RUU P2SK, yang melemahkan klausul pemecatan kepala BI namun memberi DPR kewenangan mengevaluasi kinerja bank sentral secara mengikat. Anggota dewan dapat diberhentikan jika melanggar hukum, sementara BI diwajibkan lebih proaktif mendukung pertumbuhan ekonomi. RUU yang juga memperluas peran polisi dalam penyelidikan keuangan ini dijadwalkan disetujui dalam sidang paripurna DPR pada Kamis, usai disepakati seluruh fraksi di Baleg DPR pada 30 September 2025.

Meski demikian, rancangan tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran investor soal potensi campur tangan politik dalam kebijakan moneter di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewo membantah anggapan bahwa independensi BI akan tergerus, menegaskan bank sentral dan kementerian keuangan akan tetap fokus pada mandat masing-masing.

Paket Ekonomi 2025 dan Stimulus Akhir Tahun Jadi Penopang Pertumbuhan dan Fundamental Rupiah

Di sisi lain, Pemerintah meluncurkan Paket Ekonomi 2025 dengan target pertumbuhan 5,2%, mencakup program magang fresh graduate, penguatan pertanian, perikanan, UMKM. Untuk menjaga momentum konsumsi, pemerintah menyiapkan HARBOLNAS (10-16 Desember 2025) dengan target transaksi Rp35 triliun serta subsidi transportasi. Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut stimulus tambahan, termasuk paket Natal-Tahun Baru senilai hampir USD2 miliar, akan diumumkan minggu depan. Ia menegaskan optimisme pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan.

“Pemerintah optimis bahwa pertumbuhan ekonomi 5,2% bisa dicapai. Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, para Menteri berkumpul untuk mengecek program-program unggulan. Saat ini PMI Manufaktur masih dalam fase ekspansi di 50,4, sementara surplus ekspor tercatat sebesar USD5,49 miliar,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Paket ini positif bagi fundamental rupiah, meski pergerakan jangka pendek tetap dipengaruhi faktor eksternal seperti data AS, kebijakan The Fed, dan shutdown pemerintah AS.

Data ADP Melemah, The Fed Hati-Hati Soal Suku Bunga di Tengah Prospek Inflasi

Di Amerika Serikat (AS), data ekonomi pada Rabu menunjukkan pelemahan signifikan di sektor tenaga kerja. Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk September mencatat penurunan 32 ribu lapangan kerja, berbanding terbalik dengan konsensus yang memprakirakan kenaikan 50 ribu. Sementara itu, indikator manufaktur masih relatif stabil, dengan PMI Manufaktur ISM naik tipis ke 49,1, sedikit di atas konsensus 49 dan juga lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di 48,7, meski tetap berada di bawah level ekspansi.

Pasca data tersebut, Pejabat The Fed memberi sinyal hati-hati terkait kebijakan suku bunga. Lorie Logan menilai inflasi bisa naik ke 2,4% tanpa dampak tarif dan mungkin perlu pelemahan pasar tenaga kerja agar target 2% tercapai, meski kondisi keuangan masih relatif longgar. Austan Goolsbee tetap mendukung pemangkasan suku bunga, namun khawatir inflasi bergerak ke arah yang salah dan menilai asumsi lonjakan harga akibat tarif hanya sementara belum cukup meyakinkan, meski ia tetap melihat dampaknya bersifat sementara.

Menurut CME FedWatch, pasar kini menilai peluang penuh untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober, dengan probabilitas sekitar 86,9% bahwa suku bunga akan berada di kisaran 3,50%-3,75% pada Desember tahun ini.

Shutdown Pemerintah AS dan Tarif Baru Memperburuk Ketidakpastian Pasar Global

Awal bulan ini, pasar global dibayangi ketidakpastian setelah shutdown sebagian pemerintah AS dimulai akibat kegagalan Kongres dan Presiden Donald Trump mencapai kesepakatan anggaran. Kondisi ini memaksa ratusan ribu pegawai federal dirumahkan, layanan publik terhenti, serta berpotensi menunda rilis data utama seperti Nonfarm Payrolls (NFP), sementara investor menakar risiko kebuntuan berkepanjangan terhadap prospek ekonomi AS.

Dengan kemungkinan absennya acuan data resmi, komentar dari anggota-anggota FOMC diprakirakan menjadi sorotan utama pasar, berperan sebagai katalis arah kebijakan moneter sekaligus membuka peluang perdagangan jangka pendek pada pasangan USD/IDR.

Tekanan terhadap pasar kian kompleks setelah tarif baru mulai berlaku: bea 100% untuk sebagian produk farmasi dan 25% untuk truk berat, dengan tambahan tarif kayu dan produk turunannya dijadwalkan berlaku pada 14 Oktober. Investor kini fokus menakar durasi kebuntuan politik serta dampak gabungan antara shutdown dan kebijakan tarif terhadap dinamika pasar.

Pasar Menanti Data PHK Challenger, Klaim Pengangguran, dan Pesanan Pabrik AS Malam Ini

Berikutnya, pada malam ini di sesi Amerika, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang diharapkan dapat menjadi katalis bagi pergerakan dolar AS dan rupiah dalam jangka pendek. Laporan PHK Challenger September akan dirilis setelah sebelumnya mencatat 85,979 ribu pemutusan kerja. Selain itu, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims) diprakirakan naik menjadi 223 ribu dari 218 ribu pada pekan sebelumnya, yang memberi sinyal terbaru tentang kondisi pasar tenaga kerja. Dari sisi industri, rilis Pesanan Pabrik Agustus diproyeksikan tumbuh 1,4% setelah bulan sebelumnya mengalami kontraksi 1,3%, menunjukkan potensi perbaikan dalam aktivitas manufaktur dan permintaan domestik.

Indikator Ekonomi

Laporan PHK Challenger (Thn/Thn)

PHK Challenger, yang dirilis oleh Challenger, Grey & Christmas setiap bulan, memberikan informasi tentang jumlah PHK perusahaan yang diumumkan menurut industri dan wilayah. Laporan tersebut merupakan indikator yang digunakan oleh investor untuk menentukan kekuatan pasar tenaga kerja. Biasanya, pembacaan yang tinggi dianggap negatif (atau bearish) bagi Dolar AS (USD), sedangkan pembacaan yang rendah dianggap positif (atau bullish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Okt 02, 2025 11.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 85.979Rb

Sumber: Challenger, Grey & Christmas, Inc.

Prakiraan Harga Perak: XAG/USD Melayang di Sekitar $47,50 seiring Meningkatnya Permintaan Safe-Haven

Harga Perak (XAG/USD) bergerak di dekat level tertinggi baru 14 tahun di $47,83 yang dicapai pada hari Rabu, diperdagangkan sekitar $47,50 per troy ons selama awal sesi Eropa pada hari Kamis. Harga Minyak Mentah mungkin akan meningkat lebih lanjut di tengah meningkatnya permintaan safe-haven setelah penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS)
Baca lagi Previous

Ekspor Turki September Meningkat ke $22.6B dari Sebelumnya $21.8B

Ekspor Turki September Meningkat ke $22.6B dari Sebelumnya $21.8B
Baca lagi Next