Rupiah Stabil Menjelang Keputusan BI, Pasar Mencermati Stimulus Domestik dan Dinamika Global
- Rupiah bertahan di sekitar Rp16.570 per dolar AS pada awal pekan, masih dalam fase konsolidasi menjelang keputusan suku bunga BI.
- Pemerintah mengumumkan paket stimulus Rp30 triliun untuk memperkuat konsumsi dan lapangan kerja hingga akhir tahun.
- Sentimen eksternal terbantu oleh pernyataan Donald Trump terkait tarif Tiongkok dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dua kali lagi pada 2025.
Pada Senin, menjelang sesi Eropa nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp16.570 per dolar AS, naik tipis 0,05% atau 9 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Berdasarkan grafik harian, rupiah tampak bergerak mendatar setelah sempat melemah di akhir September, menandakan fase konsolidasi pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 22 Oktober.
Dalam sepekan terakhir, rupiah menguat 0,7%, namun masih melemah 1,5% dalam enam bulan terakhir dan 7,2% sepanjang tahun berjalan. Pola ini menunjukkan tekanan eksternal dari dolar AS masih kuat, meski intervensi BI di pasar valuta asing membantu menahan pelemahan lebih dalam. Secara teknis, kisaran pergerakan harian berada antara Rp16.559-Rp16.588, dengan resistance jangka pendek di Rp16.600 dan support di sekitar Rp16.500.
BI Diprakirakan akan Memangkas Suku Bunga Lagi
Menurut jajak pendapat Reuters terhadap 28 ekonom, BI diprakirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bp menjadi 4,50% pada Rabu. Ini akan menjadi pemangkasan keempat berturut-turut, menandai pergeseran fokus kebijakan ke arah mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah pelemahan rupiah sekitar 3% sejak awal tahun. Pada tahun 2025 ini BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali dengan total 125bp.
Dengan inflasi stabil di 2,65%, masih dalam target 1,5-3,5%, ruang pelonggaran moneter dinilai masih terbuka. Survei Reuters juga memprakirakan suku bunga akan turun lagi ke 4,25% pada akhir 2025 dan bertahan hingga 2026, sejalan dengan sikap BI yang menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan.
Stimulus Rp30 Triliun Dorong Konsumsi, tapi Berisiko Tekan Rupiah dalam Jangka Pendek
Pemerintah pada Jumat mengumumkan paket stimulus Rp30 triliun, mencakup bantuan tunai untuk 35 juta rumah tangga dan perluasan program magang hingga 100.000 peserta. Langkah ini diharapkan menopang konsumsi dan menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.
Namun, dari sisi pasar valuta asing, stimulus fiskal ini berpotensi menekan rupiah dalam jangka pendek karena meningkatnya likuiditas dan belanja pemerintah, terutama bila bertepatan dengan pemangkasan suku bunga BI. Meskipun demikian, efek negatif kemungkinan terbatas, tertahan oleh intervensi BI serta peningkatan aktivitas sektor riil yang memperkuat daya beli masyarakat.
Trump Isyaratkan Pelonggaran Tarif, Harapan Dagang Naik di Tengah Shutdown AS
Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tarif penuh terhadap Tiongkok tidak akan berkelanjutan dan mengonfirmasi rencana pertemuan langsung dengan Presiden Tiongkok, memicu sentimen positif global. Harapan akan meredanya ketegangan dagang ini muncul di tengah shutdown pemerintah AS yang telah memasuki hari ke-20, dengan Senat dijadwalkan menggelar pemungutan suara ke-11 terkait rancangan pendanaan sementara pada Senin mendatang.
Menurut CME FedWatch, pasar kini sepenuhnya memprakirakan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed masing-masing 25 bp pada Oktober dan Desember, yang menekan potensi penguatan dolar AS sekaligus menopang rupiah menjelang rilis data inflasi konsumen AS akhir pekan ini.
Pertanyaan Umum Seputar Bank-Bank Sentral
Bank Sentral memiliki mandat utama yaitu memastikan adanya stabilitas harga di suatu negara atau kawasan. Perekonomian terus-menerus menghadapi inflasi atau deflasi ketika harga barang dan jasa tertentu berfluktuasi. Kenaikan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti inflasi, penurunan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti deflasi. Tugas bank sentral adalah menjaga permintaan tetap sesuai dengan mengubah suku bunga kebijakannya. Bagi bank sentral terbesar seperti Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE), mandatnya adalah menjaga inflasi mendekati 2%.
Bank sentral memiliki satu alat penting yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan inflasi, yaitu dengan mengubah suku bunga acuannya, yang umumnya dikenal sebagai suku bunga. Pada saat-saat yang telah dikomunikasikan sebelumnya, bank sentral akan mengeluarkan pernyataan dengan suku bunga acuannya dan memberikan alasan tambahan terkait mengapa bank ini mempertahankan atau mengubahnya (memotong atau menaikkan). Bank-bank lokal akan menyesuaikan suku bunga tabungan dan pinjaman mereka, yang pada gilirannya akan mempersulit atau mempermudah orang untuk mendapatkan penghasilan dari tabungan mereka atau bagi perusahaan-perusahaan untuk mengambil pinjaman dan melakukan investasi dalam bisnis mereka. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga secara substansial, hal ini disebut pengetatan moneter. Ketika memotong suku bunga acuannya, maka disebut pelonggaran moneter.
Bank sentral sering kali independen secara politik. Anggota dewan kebijakan bank sentral melewati serangkaian panel dan sidang sebelum diangkat ke kursi dewan kebijakan. Setiap anggota di dewan tersebut sering kali memiliki keyakinan tertentu tentang bagaimana bank sentral harus mengendalikan inflasi dan kebijakan moneter berikutnya. Anggota yang menginginkan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga rendah dan pinjaman murah, untuk meningkatkan ekonomi secara substansial semantara merasa puas melihat inflasi sedikit di atas 2%, disebut 'dove'. Anggota yang lebih suka melihat suku bunga yang lebih tinggi untuk menghargai tabungan dan ingin menjaga inflasi tetap rendah setiap saat disebut 'hawk' dan tidak akan beristirahat sampai inflasi mencapai atau sedikit di bawah 2%.
Biasanya, ada ketua atau presiden yang memimpin setiap rapat, perlu menciptakan konsensus antara pihak yang mendukung atau menentang kebijakan moneter dan memiliki keputusan akhir ketika keputusan harus diambil berdasarkan suara yang terbagi untuk menghindari hasil seri 50-50 mengenai apakah kebijakan saat ini harus disesuaikan. Ketua akan menyampaikan pidato yang sering kali dapat diikuti secara langsung, di mana sikap dan prospek moneter saat ini dikomunikasikan. Bank sentral akan mencoba untuk mendorong kebijakan moneternya tanpa memicu perubahan tajam pada suku bunga, ekuitas, atau mata uangnya. Semua anggota bank sentral akan mengarahkan sikap mereka ke pasar sebelum acara rapat kebijakan. Beberapa hari sebelum rapat kebijakan berlangsung hingga kebijakan baru dikomunikasikan, anggota dilarang berbicara di depan umum. Hal ini disebut periode blackout.