Rupiah Tertekan ke Area Kritis, Uji Dekat Rekor Terlemah di Tengah Dolar AS yang Tangguh

  • Rupiah mendekati terlemah rekor, diperdagangkan di 16.904 pada Jumat, dengan tekanan masih terjaga secara bulanan dan tahunan.
  • Perlambatan FDI domestik membatasi dukungan struktural bagi Rupiah.
  • Ketahanan data ekonomi AS dan sikap hati-hati pejabat The Fed memperkuat Dolar AS.

Pada perdagangan Jumat, Rupiah melemah dengan pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di level 16.904, naik 40,7 poin atau 0,24% secara harian. Rupiah tampak berusaha menguji terendah sepanjang sejarah yang tercatat pada 4 April 2025 di 16.972. Rentang pergerakan rupiah sejauh ini berada di kisaran 16.876,6-16.924,1. Secara historis, rupiah bergerak dalam rentang 52 minggu antara 16.085,0 hingga 16.972,5. Dari sisi kinerja, Rupiah tercatat melemah sekitar 1,12% dalam satu bulan terakhir dan turun 3,19% dalam setahun terakhir, menegaskan tekanan berkelanjutan di tengah ketahanan Dolar AS dan sikap kebijakan moneter global yang masih ketat.

BI Perkuat Intervensi Valas Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Global

Menurut kepala manajemen moneter di Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, BI secara aktif memasuki pasar valas (baik di pasar spot domestik maupun pasar forward termasuk DNDF) serta pasar non-deliverable offshore, dengan tujuan menjaga nilai tukar Rupiah tetap mencerminkan fundamental dan mekanisme pasar yang sehat, terutama ketika mata uang mendekati level terlemah sepanjang sejarah. Intervensi semacam ini disebutkan sebagai langkah berkelanjutan oleh otoritas moneter di tengah tekanan global dan volatilitas pasar yang tinggi.

FDI Melambat di 2025, Dukungan Struktural Rupiah Terbatas meski Ada Harapan dari Danantara

Sementara itu, Arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) ke Indonesia pada 2025 tercatat relatif stabil meski melambat tajam dibandingkan 2024, dengan kenaikan hanya 0,1% secara tahunan. Perlambatan ini membatasi dukungan struktural bagi Rupiah, meski pemulihan FDI pada kuartal IV – tumbuh 4,3% setelah kontraksi di kuartal sebelumnya – memberi sinyal perbaikan sentimen jangka menengah. Ke depan, pemerintah berharap kehadiran dana kekayaan negara Danantara dapat menarik investasi baru dan membantu memperkuat persepsi fundamental, yang berpotensi memberi bantalan tambahan bagi Rupiah di tengah tekanan global.

Data Tenaga Kerja dan Manufaktur AS Perkuat Dolar, The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Lebih Lama

Di sisi lain, Dolar AS kembali menemukan pijakan setelah data Klaim Tunjangan Pengangguran AS menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja, memperkuat narasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan lebih lama. Pasar kini hampir sepenuhnya memproyeksikan suku bunga tetap pada pertemuan akhir Januari, sementara ekspektasi pemangkasan berikutnya bergeser ke Juni, di tengah inflasi yang belum sepenuhnya jinak.

Data AS yang dirilis semalam mengirimkan sinyal campuran, namun secara keseluruhan mengonfirmasi ketahanan ekonomi. Klaim Tunjangan Pengangguran Awal turun tajam ke 198 ribu, jauh di bawah konsensus 215 ribu, menegaskan bahwa kondisi pasar tenaga kerja tetap solid. Dari sisi aktivitas, indikator manufaktur regional menunjukkan perbaikan, dengan Indeks Manufaktur Empire State New York berbalik naik ke 7,7, sementara Survei Manufaktur The Fed Philadelphia melonjak ke 12,6, membalik ekspektasi kontraksi.

Pejabat The Fed Tegaskan Sikap Hati-Hati, Inflasi Masih jadi Risiko Utama

Nada kehati-hatian turut ditegaskan oleh pejabat The Fed. Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menilai ekonomi AS masih cukup tangguh dan dampak tarif sejauh ini lebih terbatas dari prakiraan, meski inflasi dinilainya masih terlalu tinggi walau bergerak ke arah yang lebih baik. Senada, Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menegaskan inflasi tetap menjadi risiko utama, sehingga kebijakan moneter perlu dijaga sedikit ketat. Dengan IHK Desember masih bertahan di sekitar 3% dan ekonomi menunjukkan momentum, ruang untuk merasa puas terhadap inflasi dinilai masih terbatas.

Pasar Menanti Data Produksi Industri AS dan Sinyal Kebijakan dari Pejabat The Fed

Selanjutnya, data AS yang akan dirilis malam ini berpotensi kembali memengaruhi arah Dolar AS, dengan fokus utama pada rilis Produksi Industri AS bulan Desember, yang sebelumnya tumbuh 0,2% dan diprakirakan melambat ke 0,1% secara bulanan. Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada pidato sejumlah pejabat The Fed, Bowman dan Jefferson, yang berpotensi memberikan petunjuk lanjutan terkait sikap kebijakan moneter. Kombinasi data aktivitas riil dan komunikasi bank sentral ini akan menjadi bahan bagi pasar untuk menakar kembali ketahanan ekonomi AS serta prospek suku bunga ke depan.

USD/INR Perbarui Tertinggi Empat Minggu di Tengah Penjualan FIIs yang Konsisten di Pasar Ekuitas India

Rupee India (INR) mengunjungi kembali level terendah empat minggu terhadap Dolar AS (USD) pada sesi pembukaan hari Jumat. Pasangan mata uang USD/INR naik mendekati 90,70 seiring Rupee India berkinerja buruk di tengah arus keluar dana asing yang terus menerus dari pasar saham India
Baca lagi Previous

Prakiraan Harga USD/JPY: Menguji Penembusan Konsolidasi Dekat 158,00

Pasangan mata uang USD/JPY diperdagangkan 0,18% lebih rendah di dekat 158,35 selama sesi perdagangan Eropa awal pada hari Jumat. Pasangan mata uang ini berada di bawah tekanan seiring dengan penguatan Yen Jepang (JPY) akibat peringatan verbal intervensi dari Jepang untuk mengatasi pergerakan berlebihan satu arah.
Baca lagi Next