Rupiah Masih Mendekati 17.000, Pasar Hati-Hati Jelang Keputusan BI dan Dinamika Global

  • Rupiah bergerak di kisaran 16.950-16.970, dengan level 17.000 menjadi area perhatian pasar.
  • BI diprakirakan menahan suku bunga di 4,75%, di tengah kehati-hatian investor dan tekanan arus modal.
  • Sentimen global masih rapuh, dipengaruhi ketegangan AS-UE dan agenda data AS ke depan.

Di pasar valuta asing, rupiah diperdagangkan melemah dengan pasangan mata uang USD/IDR bergerak di kisaran 16.950-16.970, mendekati area psikologis 17.000 yang kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Di sisi bawah, area 16.900 masih dipandang sebagai zona penahan jangka pendek, sementara pergerakan di bawah 16.850 berpotensi memberi ruang stabilisasi sementara. Selama belum terjadi penurunan yang konsisten menjauh dari area tersebut, pasar cenderung menahan langkah sambil menunggu kejelasan arah dari keputusan Bank Indonesia.

Rupiah sempat tertekan hingga menyentuh terendah dalam perdagangan harian sepanjang masa di sekitar 16.985-16.987 per dolar AS pada Selasa, di tengah kekhawatiran pasar terkait independensi Bank Indonesia dan kesehatan fiskal. Tekanan tersebut mereda setelah Menteri Keuangan menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga independensi bank sentral, meski kehati-hatian investor masih tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke kisaran 6,33%.

Pasar Menanti Keputusan BI, Suku Bunga Diprakirakan Bertahan di 4,75%

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan diumumkan hari ini. BI secara luas diprakirakan mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, dengan suku bunga fasilitas simpanan dan pinjaman masing-masing tetap di 3,75% dan 5,50%, seiring fokus kebijakan yang masih diarahkan untuk menahan pelemahan rupiah.

Survei Reuters menunjukkan bank sentral memilih melanjutkan sikap berhati-hati setelah menghentikan siklus pelonggaran sejak Oktober, di tengah tekanan arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik serta meningkatnya kekhawatiran terhadap posisi fiskal. Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati data pertumbuhan kredit tahunan Desember yang sebelumnya tercatat 7,74%, sebagai indikator tambahan untuk menilai kekuatan permintaan domestik dan efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.

IMF Naikkan Proyeksi Global, Pertumbuhan Indonesia Tetap Solid

Pada Senin lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,3%, atau naik 0,2 poin persentase dari prakiraan Oktober 2025, karena meredanya dampak tarif AS dan berlanjutnya lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang menopang ekspektasi produktivitas. Meski demikian, IMF menilai laju pertumbuhan global masih berada dalam fase moderat, dengan proyeksi 2027 bertahan di 3,2%, sehingga belum cukup kuat untuk mendorong perubahan signifikan pada selera risiko global, termasuk terhadap pergerakan rupiah.

Untuk Indonesia, IMF memprakirakan pertumbuhan ekonomi tetap kuat di kisaran 5,1% pada 2026-2027. Proyeksi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan prakiraan Oktober, dengan revisi naik sekitar 0,2 poin persentase untuk 2026 dan 0,1 poin persentase pada 2027, menegaskan ketahanan pertumbuhan domestik meski lingkungan global masih bergerak moderat.

Sentimen Dolar Melemah di Tengah Ketegangan AS-UE dan Ketidakpastian Kebijakan

Sementara itu, sentimen terhadap aset dolar melemah seiring memburuknya hubungan AS-UE terkait isu Greenland, yang memicu koreksi hampir 2% di pasar saham AS pada Selasa. Tekanan kian terasa setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 10% terhadap sejumlah negara Eropa dan Inggris, memicu kritik luas, termasuk dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menilai kebijakan tersebut berpotensi merusak stabilitas global.

Di tengah ketegangan geopolitik dan perdagangan, pelaku pasar menilai ulang eksposur terhadap aset AS di tengah kekhawatiran tekanan terhadap ekspor dan pertumbuhan, sementara ketidakpastian kebijakan moneter meningkat setelah sinyal penunjukan Ketua The Fed yang baru, menambah kehati-hatian global dan turut membebani pergerakan rupiah.

Data AS dan Agenda The Fed Jadi Penentu Arah Dolar-Rupiah Selanjutnya

Pasar juga mencermati rilis ketenagakerjaan AS, di mana Perubahan Ketenagakerjaan ADP rata-rata empat pekan tercatat naik 8 ribu pada Januari. Meski kembali ke zona positif, angka tersebut masih tergolong moderat dan belum cukup kuat untuk mengubah persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed, sehingga respons pasar cenderung terbatas dan tidak membangun dukungan baru bagi dolar AS.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rangkaian agenda ekonomi AS, termasuk pidato Presiden Donald Trump pada Rabu, diikuti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III serta indikator inflasi pilihan The Fed melalui PCE Inti pada Kamis. Pada akhir pekan, pasar juga mencermati rilis awal PMI manufaktur dan jasa AS Januari. Rangkaian data dan pernyataan tersebut berpotensi membentuk ekspektasi arah kebijakan The Fed dan memengaruhi dinamika dolar AS, yang pada gilirannya turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Jan 21, 2026 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 4.75%

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

NZD/USD Mengumpulkan Kekuatan di Atas 0,5800 saat Ancaman Tarif Trump Memicu Perdagangan 'Jual Amerika'

Pasangan mata uang NZD/USD diperdagangkan di wilayah positif selama empat hari berturut-turut di dekat 0,5835 selama awal sesi Eropa pada hari Rabu. Dolar AS (USD) melemah terhadap Dolar Selandia Baru (NZD) seiring dengan ancaman tarif Presiden AS Donald Trump yang memicu kekhawatiran baru tentang perdagangan 'Jual Amerika'.
Devamını oku Previous

Prakiraan Harga Perak: XAG/USD Goyah Dekat Tertinggi Sepanjang Masa Sekitar $96 Jelang Pidato Trump

Harga Perak (XAG/USD) bergerak sideways di dekat level tertinggi sepanjang masa 95,90 selama awal sesi Eropa pada hari Rabu. Logam putih ini sedang konsolidasi karena para investor menunggu pidato dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, yang dijadwalkan pada pukul 13:00 GMT.
Devamını oku Next