Rupiah Melemah Mendekati 17.000 saat Dolar Menguat di Tengah Lonjakan Minyak, Tensi Timur Tengah
- USD/IDR naik ke 16.965, sempat menyentuh tertinggi harian di 17.019.
- Minyak melonjak lebih 25%, membuat dolar menguat.
- Konflik Timur Tengah dan data tenaga kerja AS menekan rupiah.
Rupiah bergerak melemah pada perdagangan Senin siang di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Berdasarkan data perdagangan dalam perdagangan harian, USD/IDR naik ke sekitar 16.965, mendekati area psikologis 17.000 dan tidak jauh dari puncak 52-minggu di sekitar 17.019, mencerminkan permintaan dolar yang kembali menguat di pasar global.
Sentimen pasar global dipicu lonjakan harga Minyak Mentah lebih dari 25%, yang memicu kekhawatiran inflasi dan membuat investor menilai ulang ruang pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini turut mendorong Dolar AS naik ke level tertinggi sejak November 2025.
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah konflik AS-Israel dan Iran memasuki hari kesepuluh, disertai penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran.
Selain itu, risiko gangguan di Selat Hormuz menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sehingga memperkuat permintaan dolar AS dan menekan mata uang Garuda ini.
Dari sisi data ekonomi, laporan Nonfarm Payrolls (NFP) terbaru menunjukkan pelemahan yang cukup tajam di pasar tenaga kerja Amerika Serikat pada Februari. Jumlah lapangan pekerjaan tercatat berkurang 92 ribu, jauh berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memprakirakan kenaikan sekitar 59 ribu, sementara data bulan sebelumnya direvisi turun menjadi 126 ribu. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3%, dan tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke 62%, menandakan berkurangnya keterlibatan tenaga kerja dalam aktivitas ekonomi.
Meski demikian, tekanan dari sisi upah masih menunjukkan ketahanan. Rata-rata penghasilan per jam meningkat 0,4% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, menandakan bahwa dinamika upah belum sepenuhnya mereda. Kombinasi antara pelemahan pasar tenaga kerja dan pertumbuhan upah yang tetap kuat menciptakan dilema bagi The Fed: perlambatan ketenagakerjaan dapat mendorong ekspektasi pelonggaran moneter, tetapi tekanan upah yang bertahan dapat menjaga risiko inflasi tetap tinggi dan membatasi ruang bagi pemangkasan suku bunga yang agresif.
Di sisi lain, indikator konsumsi juga memberi sinyal moderasi aktivitas ekonomi. Penjualan ritel AS tercatat turun 0,2% secara bulanan pada Januari, mencerminkan mulai melemahnya momentum belanja rumah tangga. Meskipun penurunannya tidak sedalam prakiraan pasar, data ini tetap menambah indikasi bahwa permintaan domestik AS mulai mendingin.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan dinamika data ekonomi AS tersebut menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan dolar dan sentimen global. Dalam konteks ini, investor terus menakar implikasinya terhadap arah kebijakan moneter The Fed serta dampaknya terhadap rupiah.