Batu Bara ICE Newcastle Stabil di 135,20 di Tengah Berlanjutnya Konflik di Timur Tengah

  • Batu Bara ICE Newcastle belum membuat pergerakan besar di 135,20.
  • AS dan Iran saling menolak proposal perdamain.
  • Menteri ESDM Indonesia menunda perubahan tarif royalti komoditas pertambangan.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 135,20 yang lebih tinggi 0,56% dibandingkan penutupan pekan lalu. Batu bara ini dibuka dengan gap atas kecil di 135,20 dan belum menunjukkan pergerakan sama sekali sejauh ini. Pembukaan tersebut sekaligus memulihkan penurunan yang terjadi Jumat lalu. Komoditas ini memulai minggu baru di tengah memudarnya tanda-tanda optisme yang muncul pekan lalu menyusul AS dan Iran yang saling menolak proposal damai.

Absennya tindak lanjut rebound Rabu pekan lalu membuat Relative Strength Index (RSI) 14-hari dalam komoditas ini kembali ke dekat level netral 50, lebih jauh memudarkan momentum bullish. Meskipun demikian, posisi harga yang berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari menunjukkan bahwa tren jangka lebih panjang harga batu bara ini tetap naik.

Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia berawan dan ada kemungkinan hujan ringan dengan suhu di 18°C pada saat berita ini ditulis. Perlu diperhatikan apakah hujan tersebut dapat mengganggu proses pemuatan batu bara karena jika demikian, bisa berakibat terganggunya jadwal pengiriman dan bisa berefek pada pergerakan harga jangka pendek.

Amerika Serikat dan Iran saling menolak proposal damai masing-masing. Iran menolak tuntutan-tuntutan dari AS yang salah satunnya membongkar fasilitas-fasilias nuklir, seperti diinformasikan Wall Street Journal. Sementara Presiden AS, Donald Trump, mengecam respons dari Iran serta menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima,"

Peristiwa di atas membuat kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi jauh dari pasti dalam jangka pendek, melanjutkan gangguan distribusi energi global mengingat selat tersebut bisanya dilalui untuk menganggkut 20% kebutuhan minyak global. CEO Saudi Aramco, Amin Nasset, mengatakan bahwa dunia telah kehilangan hamir 1 miliar barrel dalam dua bulan terakhir.

Akibatnya, minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat naik ke area $96,91 sebelumnya hari ini namun kekurangan tindak lanjut. Penutupan selat tersebut juga menganggu distrubusi Gas Alam dari Timur Tengah, sehingga berpotensi menjaga permintaan dan harga batu bara tetap tinggi mengingat komoditas ini digunakan untuk alternatif bagi gas untuk pembangkit listrik.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Sebelumnya hari ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa belum ada keputusan akhir mengenai kenaikan tarif royalti komoditas-komoditas pertambangan, seperti diinformasikan CNBC Indonesia.

Meskipun, dia mengakui ada exercise dan sosialisasi perubahan peraturan untuk mendapatkan umpan balik dari pihak-pihak terkait. Dari umpan balik tersebut, Menteri Bahlil memutuskan untuk menunda keputusan untuk memperhitungkan formulasi yang baik serta saling menguntungkan bagi negara dan pengusaha. Sebelumnya, ada kabar bahwa kenaikan royalti akan diberlakukan pada awal Juni 2026.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Industrial Production (YoY) Greece Maret Tumbuh dari Sebelumnya 1.8% ke 8.3%

Industrial Production (YoY) Greece Maret Tumbuh dari Sebelumnya 1.8% ke 8.3%
Baca lagi Previous

Baghaei Iran: Tanggapan terhadap proposal perdamaian AS tidak berlebihan

Juru bicara kementerian luar negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan selama sesi perdagangan Eropa pada hari Senin bahwa proposal kepada Amerika Serikat (AS) tidak “berlebihan”, dan Washington terus memiliki “tuntutan yang tidak masuk akal”
Baca lagi Next