CPO: Minyak Sawit Melemah Rabu, Ringgit Kuat dan Kebijakan Ekspor RI Menahan Sentimen

  • CPO kontrak Juni 2026 turun 0,62% ke 4.512 ringgit per ton, Juli melemah ke 4.552 ringgit per ton.
  • Ringgit menguat terhadap Dolar AS, membuat CPO relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
  • Pasar mencermati aturan ekspor baru Indonesia, permintaan India-Tiongkok, dan harga minyak mentah yang masih tinggi.

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah pada perdagangan Rabu. Kontrak Juni 2026 turun 0,62% atau 28 poin ke 4.512 ringgit per ton, setelah bergerak dalam rentang 4.493-4.636 ringgit.

Kontrak Juli 2026 juga berbalik melemah dan menghentikan kenaikan tiga hari beruntun, turun 0,42% ke 4.552 ringgit per ton. Sementara itu, kontrak Agustus 2026 terkoreksi lebih terbatas 0,22% ke 4.575 ringgit per ton. Pergerakan ini menunjukkan pasar mulai menahan laju pemulihan harga, terutama karena dorongan permintaan belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari penguatan Ringgit dan ketidakpastian kebijakan ekspor.

Ringgit Menguat, Daya Tarik Ekspor Tertekan

Dari pasar valuta, USD/MYR turun 0,14% ke 3,9725, menandakan Ringgit menguat terhadap Dolar AS. Dalam setahun, USD/MYR juga tercatat melemah 6,96%, menunjukkan penguatan Ringgit yang cukup signifikan. Bagi CPO, kondisi ini menjadi beban karena komoditas berdenominasi Ringgit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga dapat menahan minat beli di tengah sinyal permintaan India dan Tiongkok yang belum kuat.

Kondisi ini dapat menahan minat beli, terutama ketika pelaku pasar masih menunggu arah permintaan dari India dan Tiongkok. Dengan harga yang belum mendapat dorongan kuat dari sisi konsumsi, penguatan mata uang Malaysia mempersempit ruang kenaikan CPO dalam jangka pendek.

Aturan Ekspor Indonesia Jadi Perhatian Baru

Di luar faktor harga harian, pasar juga mencermati aturan baru tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 20 Mei. Tahap awal kebijakan ini mencakup CPO, batu bara, dan ferroalloy, dengan ekspor diarahkan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Tujuannya adalah memperketat pengawasan, menekan praktik under-invoicing, transfer pricing, serta pelarian devisa. Namun bagi industri sawit, kebijakan ini menambah unsur ketidakpastian karena pelaku usaha masih menunggu kejelasan soal mekanisme harga, kontrak ekspor, masa transisi, dan dampaknya terhadap margin eksportir.

Permintaan India dan Tiongkok Masih Jadi Ujian

Dari sisi permintaan, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Impor minyak sawit India pada April turun 26% ke 513.403 ton, terendah sejak Desember 2025, karena pembeli beralih ke minyak nabati pesaing yang dinilai lebih kompetitif.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada Tiongkok setelah kesepakatan dagang dengan AS membuka peluang peningkatan pembelian produk pertanian, termasuk kedelai. Jika impor kedelai Tiongkok meningkat dan aktivitas crushing domestik bertambah, ketersediaan soybean oil berpotensi naik dan menjadi faktor pesaing bagi CPO. Namun, dampaknya terhadap harga sawit masih bergantung pada harga relatif minyak nabati, margin pengolahan, serta realisasi pembelian Tiongkok.

Minyak Tinggi Beri Bantalan, tetapi Belum Cukup Kuat

Dari pasar energi, ketegangan AS-Iran masih memberi bantalan tidak langsung bagi CPO. Gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz menjaga harga minyak mentah di level tinggi, sehingga menopang sentimen terhadap minyak nabati melalui kanal biofuel dan substitusi energi.

Mengutip Bloomberg, WTI crude oil kontrak Juli 2026 turun ke US$107,77 per barel, sementara Brent kontrak Juli 2026 diperdagangkan di US$109,32 per barel pada sesi Eropa. Harga minyak yang masih mahal dapat membantu menahan koreksi CPO, tetapi dorongannya belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari penguatan Ringgit serta lemahnya sinyal permintaan India dan Tiongkok.

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Merana di Bawah $4.500 di Tengah Kekuatan Dolar AS

Emas (XAU/USD) mengkonsolidasikan kerugian di dekat posisi terendah hampir tujuh minggu di bawah $4.500 pada hari Rabu, diperdagangkan di $4.478 pada saat berita ini ditulis, sementara Indeks Dolar AS (DXY) menguji level tertinggi enam minggu di area 99,45.
Baca lagi Previous

10-y Bond Auction Germany : 3.16% versus 3.08%

10-y Bond Auction Germany : 3.16% versus 3.08%
Baca lagi Next