Batu Bara ICE Newcastle Belum Buat Kemajuan di 140,05, HBA Mengalami Kenaikan
- Batu Bara ICE Newcastle mempertahankan momentum bullish.
- Semua HBA mengalami kenaikan untuk periode pertama Juni 2026
- Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan baru ekspor hari ini.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 140,05 yang belum berubah sejauh hari ini dari level pembukaan pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini secara bertahap dibuka lebih rendah selama hari-hari sebelumnya dari 142,80, level tertinggi sejak 1 April 2026 yang diraih pada Selasa pekan lalu.
Meskipun demikian, tren batu bara dalam jangka lebih panjang terlihat naik karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang saat ini berada di bawah harga. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 56,59 mengindikasikan momentumnya masih bullish karena berada di atas level netral 50, meskipun mundur dari level-level yang lebih tinggi.
Situasi yang menjadi pendorong dominan untuk sentimen risiko di pasar komoditas saat ini tetap belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hal tersebut terutama menyusul serangan Israel terhadap Lebanon baru-baru ini.
Terkait serangan yang disebutkan di atas, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, "Gencatan senjata di Lebanon adalah bagian integral setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS." Baghaei juga menyebut revisi syarat-syarat kesepakatan yang dilakukan AS menyebabkan penundaan dalam penyelesaian kesepakatan.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
- Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
- Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
- Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35
Dalam keterangan media sosialnya, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menjelaskan bahwa kenaikan harga batu bara dalam semua kalori terjadi seiring dengan dinamika pasokan-permintaan di pasar internasional.
Yang menjadi perhatian untuk batu bara adalah bahwa hari ini adalah penerapan kebijakan ekspor sumber daya alam (SDM) strategis hanya melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang berlaku mulai Senin, 1 Juni 2026. Batu bara menjadi salah satu dari tiga komoditas pertama yang termasuk dalam kebijakan ini, yang lainnya adalah minyak kelapa sawit dan paduan besi.
Dalam konfrensi pers yang dilakukan kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, kembali menegaskan bahwa kebijakan ini adalah untuk memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor serta mencegah under invoicing, transfer pricing.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.