Iran Akan Ringankan Peraturan Mata Uang Untuk Angkat Rial Jelang Sanksi - Reuters
TV negara Iran melaporkan pada hari Minggu, Iran berusaha untuk meringankan peraturan pertukaran mata uang asing dalam upaya untuk menghentikan krisis dalam mata uang Rial di tengah membayanginya sanksi AS terhadap Iran.
Sorotan Utama (melalui Reuters):
Badan negara yang dipimpin oleh Presiden Hassan Rouhani dan termasuk kepala badan peradilan dan parlemen pada hari Minggu secara parsial mencabut larangan penjualan mata uang asing dengan floating rates, memungkinkan biro pertukaran untuk menjual dengan harga pasar tidak resmi untuk tujuan seperti perjalanan ke luar negeri.
Tindakan tersebut membalik keputusan pada bulan April untuk melarang perdagangan mata uang di luar harga sekitar 42.000 Rials terhadap dolar
Gubernur bank sentral Abdolnaser Hemmati mengatakan rencana itu mencerminkan kepercayaan diri Iran dalam menghadapi sanksi AS yang membayangi.
“Tindakan ini menunjukkan kekuatan kita. Pada hari yang sama Anda (Amerika) memberlakukan sanksi, kami membuka ekonomi kami. Kami tidak memiliki masalah, jadi mengapa orang-orang kami harus khawatir?,” kata Hemmati dalam wawancara langsung di televisi.
Hemmati mengatakan bank sentral akan mengizinkan "managed float" nilai tukar rial dan mencoba untuk menghindari penggunaan cadangannya untuk mendukung mata uang.
"Bank sentral akan mencoba untuk tidak ikut campur dalam menetapkan harga mata uang keras, yang akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan, namun, pengawasan bank akan mencegah situasi tak terkendali (market swing) dan penciptaan pasar gelap," kata Hemmati.
Untuk mendorong Iran mengembalikan uang tunai mereka ke ekonomi, rencana tersebut memungkinkan bank sentral untuk membuat rekening tabungan dolar bagi rakyat biasa, kata televisi pemerintah.