USD/JPY Bergerak Lebih Tinggi Melewati 115,00 karena Pembeli Lacak Imbal Hasil di Puncak 44-Bulan
- USD/JPY naik turun di sekitar level tertinggi sejak Maret 2017 setelah tren naik dua hari.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun dari puncak bulanan, perdagangan saham Asia-Pasifik beragam.
- IMP Jepang mengikuti hasil data IMP AS dengan jumlah yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan November, Tokyo mengumumkan langkah-langkah untuk membantu para pembuat chip.
- Beberapa data/peristiwa AS akan menjadi kuncinya, serta sejumlah berita utama stimulus dan berita COVID juga penting.
Para pembeli USD/JPY beristirahat di sekitar 115,10, menyusul kenaikan yang menyegarkan puncak multi-bulan pada awal Rabu. Dengan demikian pasangan yen ini berusaha keras untuk melanjutkan kenaikan dua hari di tengah pullback imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun mundur dari level tertinggi sejak 22 Oktober, yang mengalami penurunan sebesar 0,8 basis poin (bp) beru-baru ini di sekitar 1,65%, di tengah kurangnya sejumlah data/peristiwa utama. Imbal hasil ini melonjak ke puncak bulanan pada hari sebelumnya sebelum data AS yang beragam menghentikan penurunan obligasi.
IMP Markit AS menunjukkan angka yang beragam untuk bulan November karena pengukur aktivitas Manufaktur naik melewati ekspektasi dan sebelumnya tetapi tidak dalam indeks Jasa, yang pada gilirannya membebani data IMP Gabungan. Selain itu, Indeks Manufaktur The Fed Richmond AS untuk bulan November dihasilkan sebesar 11 melampaui angka yang diharapkan dari 5 tetapi tetap di bawah 12 pembacaan sebelumnya.
Di dalam negeri, IMP Manufaktur Bank Jibun Awal Jepang untuk bulam November melampaui pembacaan sebelumnya 53,2 tetapi tetap di bawah perkiraan pasar 54,5 yang mencetak angka 54,2.
Perlu dicatat bahwa ketakutan atas geopolitik dan masalah COVID terbaru tampaknya menahan para pembeli USD/JPY akhir-akhir ini. Ketegangan geopolitik Jepang dengan Tiongkok meningkat pada hal-hal yang berkaitan dengan Vietnam karena negara besar di Asia itu menentang permainan kekuatan Beijing di perairan yang diperebutkan. “Para menteri pertahanan Jepang dan Vietnam pada Selasa sepakat untuk “menentang keras” upaya sepihak untuk mengubah status quo di perairan regional, dalam referensi terselubung untuk ekspansi maritim Tiongkok,” kata Kyodo News.
Belanda mengalami krisis COVID-19 dan baru-baru ini mengumumkan lockdown lokal tetapi kondisinya tidak membaik, yang pada gilirannya mendukung permintaan safe-haven JPY, terutama di tengah pullback dalam imbal hasil. “Belanda mulai mengangkut pasien-pasien COVID-19 melintasi perbatasan ke Jerman pada hari Selasa untuk mengurangi tekanan pada rumah sakit Belanda, yang mengurangi perawatan rutin untuk menangani lonjakan kasus virus Corona,” kata Reuters.
Yang juga positif bagi JPY adalah kondisi virus Corona yang membaik di dalam negeri dan kesiapan pemerintah untuk membantu negara mengatasi kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi. Baru-baru ini, Nikkei melaporkan bahwa Jepang akan mengalokasikan sekitar 600 miliar yen ($5,2 miliar) dari anggaran tambahan fiskal 2021 demi mendukung para produsen semikonduktor canggih termasuk pembuat chip kontrak No. 1 di dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC), per Reuters.
Terhadap latar belakang ini, saham berjangka AS berusaha keras untuk mempertahankan pemantulan dari level terendah dua minggu sementara saham di perdagangan Asia-Pasifik beragam dengan Nikkei 225 Jepang turun 0,80% pada saat berita ini dimuat.
Mengingat konsolidasi dalam imbal hasil, ditambah dengan suasana hati-hati menjelang data/peristiwa penting AS, USD/JPY dapat menyaksikan pullback lebih lanjut. Di antara katalis AS, Risalah Rapat FOMC terbaru dan inflasi inti PCE bulan Oktober sangat penting, mengingat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Analisis Teknis
Dengan kondisi RSI yang hampir overbought, para pembeli USD/JPY mungkin kesulitan menuju puncak Maret 2017 di 115,50. Namun, garis tren naik dari 20 Oktober di dekat 114,85 membatasi penurunan segera.