Indeks Dolar AS Melihat Pullback Menuju 107,00 karena Imbal Hasil Lanjutkan Pemulihan
- DXY berharap untuk pullback menuju 107,00 karena imbal hasil melanjutkan kenaikan.
- Peluang kenaikan suku bunga 1% telah dipangkas sementara ekspektasi pengetatan kebijakan sangat solid.
- Tingkat inflasi kemungkinan akan mencapai potensi penuhnya lebih cepat karena harga minyak tetap berisiko di bulan Juli.
Indeks dolar AS (DXY) menampilkan profil pasar yang seimbang dalam kisaran sempit 106,64-106,75 di sesi Asia. Aset ini tetap berada dalam cengkeraman para penjual selama tiga sesi perdagangan terakhir. DXY telah menyerah lebih dari 2,60% setelah gagal mempertahankan level tertinggi baru 19 tahun di 109,30 minggu lalu. Pergerakan pullback kemungkinan akan diikuti setelah penurunan vertikal. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS telah melanjutkan pemulihannya.
Imbal hasil Obligasi 10-Tahun Pemerintah AS Stabil di Atas 3%
Divergensi telah diamati antara imbal hasil obligasi pemerintah AS dan DXY selama beberapa sesi perdagangan terakhir. Karena imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS telah merebut kembali level psikologis 3%, DXY pasti akan menampilkan pergerakan pullback setelah gelombang impulsif bearish. Peluang kenaikan suku bunga 100 basis poin (bp) oleh Federal Reserve (FED) telah dipangkas secara drastis. Namun, peluang pengetatan kebijakan yang lebih besar sangat solid.
Inflasi Melihat Potensinya Lebih Cepat
DXY diperkirakan akan melanjutkan penurunannya dengan catatan yang lebih luas karena para pelaku pasar memperkirakan bahwa inflasi telah mencapai potensinya. Harga minyak tetap berisiko di bulan Juli dan 'upah' bernilai lebih rendah yang diterima oleh rumah tangga telah memaksa mereka untuk menurunkan kuantitas konsumsi mereka. Penurunan permintaan secara keseluruhan dan inflasi yang didorong oleh minyak akan menghasilkan tingkat inflasi yang lebih rendah.
Data penting pekan ini: Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, dan Indeks Manajer Pembelian Global S&P (IMP).
Acara-acara penting pekan ini: Kebijakan moneter People's Bank of China (PBOC), keputusan suku bunga European Central Bank (ECB), dan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).