Harga Tembaga Perbarui Puncak Dua Minggu karena USD yang Lebih Lemah Bergabung dengan Kekhawatiran Pasokan
- Tembaga mencetak tren naik tiga hari meskipun ada kekhawatiranterhadap resesi dan kecemasan pra The Fed.
- USD yang suram, kekhawatiran atas pasokan yang lebih sedikit dari Tiongkok dan Peru juga mendukung pergerakan pemulihan.
- Keyakinan Konsumen AS dan sejumlah perbincangan terkait perlambatan dapat menghibur para pedagang menjelang FOMC.
Harga tembaga tetap optimis karena pasar bergembira akan dolar AS yang lebih lemah, serta sejumlah perbincangan seputar meningkatnya kendala pasokan ke depan. Dengan itu, kontrak berjangka logam merah ini di COMEX naik selam tiga hari berturut-turut ke $3,41, menguat sebesar 1,55% dalam perdagangan harian selama Selasa pagi di Eropa.
Perlu dicatat bahwa harga tembaga selama tiga bulan di London Metal Exchange juga naik sekitar 1,5% karena para pembeli menyerang level $7.600. Selanjutnya, kontrak bulan September logam ini paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SFE) naik 2,1% menjadi 58.350 yuan ($8.640,86) per ton.
Meskipun demikian, Indeks Dolar AS (DXY) turun selama empat berturut-turut, memangkas pelemahan dalam perdagangan harian di sekitar 106,40 pada saat berita ini ditulis. Baru-baru ini, pemulihan dalam imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS, turun 2,8 basis poin mendekati 2,79%, tampaknya mendukung dolar AS dalam mengkonsolidasikan penurunan harian. Namun, data AS yang lebih lemah dan kekhawatiran aats perlambatan ekonomi, yang baru-baru ini didukung oleh raksasa pemeringkat global Moody itu membebani dolar AS.
Di tempat lain, menurut Reuters, penambang Tiongkok MMG Ltd mengatakan pada hari Senin, bahwa mereka telah menangguhkan target produksi tembaganya untuk tahun ini menyusul penurunan produksi sebesar 60% karena protes panjang di tambang Las Bambas di Peru, yang secara signifikan mengganggu operasi.
Penurunan yang diantisipasi dalam produksi produsen tembaga terbesar di dunia, yaitu Peru, juga menggoda para pembeli logam ini di tengah adanya harapan atas krisis pasokan.
Sebaliknya, kekhawatiran terhadap resesi dan persediaan yang besar di Tiongkok, serta ketidakmampuan negara naga ini untuk mendapatkan kembali daya tarik ekonomi, juga membuat para pembeli tembaga tetap terbelenggu. "Perlambatan ekonomi Tiongkok merembet ke negara-negara pengekspor utama di Eropa dan Asia Timur melalui penurunan permintaan untuk barang-barang manufaktur, menyebabkan Jerman dan Korea Selatan membukukan defisit yang jarang terjadi terhadap negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini," kata Bloomberg.
Ke depan, CB Consumer Confidence AS untuk bulan Juli, sebelumnya 98,7, yang dirilis sebelum pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada hari Rabu akan meramaikan kalender ekonomi. Yang juga penting adalah sejumlah perbincangan seputar resesi.